Ketika Aku Tiada

Diam,
Pikirlah sejenak isi hampa kini.
Walau kilat kisah tak pernah terhembusi.

Lalu,
Tetapkah kalian berdiam diri seperti duri?
Apa salahku hingga duniaku meninggali?

Jiwa ini hilang,
Pernahkah mereka rasakan?

Canda ini pudar,
Pernahkah mereka tawakan?

Sendu ini tergenang,
Pernahkah mereka ecamkan?

Habislah kalian semua karena rasa pahit tertanamkan.

Tapi, jikalau mereka salah.
Mengapa seri tawa masih genggam erat mereka semua?
Apakah dunia laluku masih disana?
Ataukah dunia laluku enggan lagi ku tahta?

Perlahan lahan,
Ia tertampar tak terhindar lalu tersadar,
Bahwa dirinya telah tiada.

Seribu rasa tenang telah gelisah dan gemetar,
Karena rasa takut yang hancur membara.

Advertisements

Nyata

Banyak pertanyaan pada sebuah pemikiran.
Inginku berganti peran karena sebuah kedengkian.
Bukan khayalan, yang tak dapat dipastikan.
Semua kenyataan, karena teringat keadaan.

Dan kau tahu?
Apa arti dari “nyata” itu?
Berasal dari dirimu,
yang tetap menghantuimu.

Tetapi kau hanya,
tetap menunggu,
tak tahu malu,
pasrah dengan hidupmu.

Ku hanya ingin melontarkan kata-kata gila.
Ku hanyalah puisi yang hanya gila kata sastra.

Arasa #1

Perkenalkan nama saya Arasa

Hanyalah sang persona
Terlahir tak sempurna
Terbilang mitos fana
Merasuki setiap rima

Diam,
tak berkata lama, juga tak jumpa

Pendam arti mati
Siapa pula dengar puisi zaman kini,
Fikirkan sosmed putuskan semua relasi,
Fake account diurus bagai anak lu sendiri,
Dihormati tanpa skill melunjak hingga dua pertiga mati

Maaf saja jika puisi ku terbilang low key tapi lihat dirimu dimanjakan orang tua bagai bayi.
Bedanya hasan melakukan semua hal sendiri dan tidak mencekik teman hakiki.
Sengaja, tanpa sengaja lihat dirimu hilang tertelan hati tak melihat jihad temanmu secara teliti.
Tutuplah semua kebaikan teman dengan pencitraan sampai akhir hayatmu nanti.

Bulanku

Kau bulanku,
Rasa tak pudar karena warnamu.
Pagi, siang, senjaku berlalu semua untukmu.
Tak sadarkah kau sedikit dengan semua itu?
Hingga diriku kelam, gelap, terasuki sendu?!

Fikiranku terhalang, menggenang dan takkan tenang.
Jika diam diam, kau memuja rasa hilang.
Semua rima puisiku hanyalah suara sumbang,
dan janganlah kau buang diriku berbayang riang.